Aliran Psikologi Behavioristik: Implikasi Behavioristik Dalam Dunia Pendidikan
1. Pengertian Teori Behavioristik
Teori Behavioristik adalah teori yang mempelajari prilaku manusia. Perpektif behaviooral berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan terjadi melalui rangsangan berdasarkan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respons) hukum-hukum mekanistik. Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan, bisa diramalkan, dan bisa ditentutkan. Menurut teori ini, seseorang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya, melalui pengalaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah. Seseorang menghentikan suatu tingkah laku, mungkin karena tingkah laku tersebut belum diberi hadiah atau telah mendapat hukuman. Karena semua tingkah laku yang baik bermanfaat ataupun yang merusak, merupakan tingkah laku yang dipelajari. Adapun tokoh-tokoh yang terkenal dalam teori ini meliputi E.L.Thorndike, I.P.Pavlov, B.F.Skinner, J.B.Watson, dll.
1. Thorndike
Menurut Thorndike(1911), salah seorang pendiri aliran tingkah laku, teori Behavioristik dikaitkan dengan belajar adalah proses interaksi anatra stimulus(yang berupapikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya menurut Thorndike, perubahan tingkah laku boleh terwujud sesuatu yang konkret(dapat diamati), atau yang non-konkret(tidak bisa diamati).
2. Ivan Petrovich Pavlov
Classic Conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap hewan anjing, dimana perangsang asli atau netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Dari contoh tentang percobaan dengan hewan anjing bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara dengan mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respond yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
3. John B. Watson
Berbeda dengan Thorndike, menurut Watson pelopor yang datang sesudah Thorndike, stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati(observable). Dengan kata lain, Watson mengabaikan berbagai perubhan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa tidak penting. Semua itu penting akan tetapi, faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum.
4. Burrhus Frederic Skinner
Menurut Skinner, deskripsi anatar stimulus atau respons untuk menjelaskan perubahan tingkah laku (dalam hubungannya dengan lingkungan) menurut versi Watson tersebut adalah deskripsi yang tidak lengkap. Respons yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasaranya setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini akhirnya mempengaruhi respons yang dihasilkan Sedangkan respons yang diberikan juga menghasilkan berbagai konsekuensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku siswa.
2. konsep belajar dan pembelajaran teori Behavioristik
Belajar secara sederhana dapat diartikan dengan membaca buku, menyelesaikan pekerjaan rumah (PR), mengerjakan tulisan, sebagaimana yang sering kita dengar dari ungkapan orang tua kepada anaknya “ayo belajar yang benar, jangan bermain-main saja, pokoknya membaca apa saja”. Batasan makna yang demikian ini sejalan dengan sifat belajar itu sendiri, yaitu makna yang demikian ini sejalan dengan sifat belajar itu sendiri, yaitu makna deskriptif. Dalam kondisi seperti apa dan sejauh mana anak bisa mendapatkan tambahan informasi dan pengetahuan, inilah yang diharapkan terjadi dalam aktivitas belajar. Dalam konteks ini, cukup penting untuk mencermati terjadinya perubahan pada diri siswa, dan penting juga untuk mengetahui dari mana informasi serta pengetahuan itu diperoleh.
Konsep belajar, secara umum, dapat dilihat dari tiga perspektif aliran, yaitu: nativisme, empirisme dan organismik. Paham nativisme lebih memandang bahwa belajar adalah suatu aktivitas berupa melatih daya ingat atau otak (interaksi anak dengan objek belajar, misalnya buku, majalah) agar menjadi tajam, sehingga mampu memecahkan persoalan atau masalah yang akan dihadapi dalam kehidupan. Berbeda dengan paham nativisme, paham empirisme memaknai belajar sebagai suatu aktivitas menambah informasi atau pengetahuan dan atau pengayaan adanya bentuk pola-pola respons baru yang mengarah pada perubahan tingkah laku siswa. Dengan demikian, kegiatan belajar guru lebih banyak menekankan arti pentingnya siswa, misalnya berupa kegiatan menghapal materi/rumus. Paham organismik memandang bahwa belajar adalah terjadinya perubahan perilaku dan pribadi siswa secara keseluruhan. Sehingga, belajar di sini bukan saja merupakan bentuk respons secara mekanistik belaka, melainkan merupakan perubahan yang sifatnya komprehensif-simultan diantara beberapa unsur atau komponen yang ada dalam diri anak, yang mengarah pada suatu tujuan tertentu.
3. Tujuan pembelajaran menurut teori Behavioristik
Tujuan pembelajaran menurut teori Behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.
4. Langkah-langkah pelaksanaan teori Behavioristik dengan menggunakan metode inkuiri
a. Tahap persiapan
- Persiapkan ruangan tempat belajar yang nyaman dan variatif sehingga peserta didik tidak merasa bosan.
- Tentukan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran yang akan diajarkan.
- Perhatikan perbedaan individual dan kelompok.
- Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan yang dapat menunjang motivasi siswa untuk melaksanakan proses belajar.
b. Tahap pelaksanaan
- Guru memperlihatkan gambar secara individual atau kelompok, apabila dilakukan secara kelompok, maka buatlah menjadi beberapa kelompk yang terdiri dari 4-5 orang.
- Selama belajar itu berlangsung perhatikan minat, keseriusan, ketekunan, keaktifan, kerja samanya dalam mengamati dan merespons gambar yang diperlihatkan teliti kesukaran yang dialami siswa serta mengadakan variasi belajar sehingga timbul respons yang berbeda untuk peningkatan dan penyempurnaan kecakakapan atau keterampilan berbahasa, baik keterampilan berbicara, menulis, menyimak, ataupun keterampilan.
- Tahap penilaian
Selama pembelajaran berlangsung, guru melakukan koreksi dan penilaian terhadap proses pelaksanaan pembelajaran, baik dari kerjasama, keaktifan siswa dalam melaksanakan belajar, serta hasil kerja sama siswa. Berilah reward yang berupa hadiah atau pujian bagi siswa/kelompok yang berprestasi.
KESIMPULAN
Teori belajar memiliki beberapa fungsi dalam proses pembelajaran, antara lain fungsi pemahaman, fungsi prediktif, fungsi kontrol, dan fungsi rekomendatif. Melalui fungsi rekomenndatif, teori Behavioristik dapat merekomendasikan pedoman instruksional kepada pendidik, yang berupa stimulus-stimulus yang tepat dalam proses pembelajaran sehingga memunculkan respon peserta didik yang merupakan hasil belajar yang diinginkan.
Teori belajar Behavioristik menjelaskan bahwa belajar perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dari beberapa teori belajar Behavioristik yang dikembangkan dapat disimpulkan bahwa untuk memunculkan respon yang diharapkan dibutuhkan penguatan (reinforcement).
Aplikasi teori belajar Behavioristik sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya. sehingga model yang paling cocok adalah Drill dan practic, contohnya: dimanfaatkan di pendidikan anak usia dini, TK untuk melatih kebiasaan baik, karena anak-anak sangat mudah meniru perilaku yang ada di lingkungannya dan sangat suka dengan pujian dan penghargaan. Sedangkan untuk pendidikan menengah dan pendidikan tinggi teori Behavioristik ini banyak digunakan antara lain untuk melatih percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga, dan sebagainya.